MASYARAKAT SEBAGAI PROSES INTERAKSI
GEORGE SIMMEL (1858-1918)
Lahir
di Kota Berlin sebagai keturunan Yahudi. Tahun 1881 memperoleh gelar
doctor cum laude di bidang filsafat. Simmel menjauhkan diri
dari organisisme dan mekanisisme. Dalam penjelasannya atas pernyataan inim
Simmel telah member pengertian dasar kepada ilmu sosial modern.
Menurut
Simmel masyarakat adalah suatu bentuk interaksi sosial atau hubungan sosial
yang terpola seperti halnya jaring laba-laba dan tugas sosiolog untuk meneliti
bentuk interaksi sedemikian itu bagaimana mereka terjadi dan mewujud di dalam
kehidupan sejarah dan seiring dengan budaya yang berbeda. Adapun bentuk-bentuk
dari hubungan sosial menurut Simmel: Dominasi (penguasaan), Subordinasi
(penundukan), kompetisi, imitasi, pembagian pekerjaan, pembentukan kelompok
atau partai-partai dan banyak lagi bentuk perhubungan sosial lain yang semuanya
selalu terdapat di dalam kesatuan-kesatuan sosial seperti kesatuan agama,
kesatuan keluarga, kesatuan organisasi dagang, sekolah dan lain-lain.
Simmel
selalu berusaha untuk melakukan analisa, klasifikasi, dan interpretasi dari
bentuk-bentuk hubungan sosial seperti masalah isolasi, kontak-kontak sosial,
differensiasi sosial, superordinasi, oposisi dan sebagainya. Masyarakat terdiri
dari jaringan yang banyak liku-likunya dari suatu hubungan yang bersifat ganda
diantara individu di dalam suatu interaksi yang konstan. Masyarakat hanyalah
sebuah nama untuk sejumlah individu-individu yang di hubungkan oleh interaksi.
Struktur super-individual yang lebih luas seperti halnya negara, keluarga,
klan, kota, atau persekutuan dagang hanyalah sebuah bentuk kristalisasi dari
interaksi sedemikian itu. Sosiologi adalah ”Master Science” dari mana orang
dapat menemukan hukum-hukum yang mengatur semua perkembangan sosial.
Masalah-masalah
pokok yang sah dipelajari sosiologi terletak pada deskripsi dan analisa
bentuk-bentuk khusus dari interaksi sosial manusia dan kristalisasi di dalam kelompok
dengan karakteristiknya masing-masing. Sekalipun tingkah laku manusia adalah
tingkah laku individu, akan tetapi banyak tingkah laku manusia dapat
diterangkan melalui afiliasi individu terhadap kelompoknya, maupun
pembatasan-pembatasan yang diberikan kepada individu tersebut melalui
bentuk-bentuk khusus dari interaksi.
Lapangan
penyelidikan utama untuk mempelajari masyarakat adalah ”Sociation” yaitu
pola-pola dan bentuk-bentuk khusus manusia melakukan asosiasi dan berinteraksi
satu sama lain. Simmel memandang bahwa stuktur kelembagaan yang lebih luas juga
merupakan lapangan yang syah bagi studi sosiologinya. Dia lebih suka membatasi
karyanya pada penyelidikan tentang apa yang disebutnya interaksi diantara
atom-atom masyarakat, terutama pada pola-pola dasar dari interaksi antara
individu-individu yang berada di bawah kelompok sosial yang lebih luas, yang
sekarang dikenal dengan micro sociology. Perhatiannya hanya pada bentuk-bentuk
interaksi.
Pernyataan
di atas menjelaskan mengapa Simmel disebut tokoh sosiologi formal. Simmel juga
menggunakan pendekatan dialektis di dalam mengembangkan sosiologinya yang
mengaitkan hubungan sosial yang dinamis dan hubungan sosial di dalam
konflik-konflik. Dari pernyataan Simmel sebelumnya, individu adalah produk dari
masyarakat. Sebagai produk dari masyarakat, individu merupakan mata rantai di
dalam proses sosial. Individu yang tersosialisasikan di dalam kehidupan
masyarakat selalu memiliki hubungan yang bersifat dualistis. Di satu pihak
merupakan anggota masyarakat dan disosialisasikan di dalam masyarakat tersebut,
tapi pada saat yang sama juga menentang masyarakat itu sendiri.
Bagi
Simmel, bentuk-bentuk yang ditemukan dalam kenyataan sosial tidak pernah
bersifat murni. Setiap fenomena sosial selalu merupakan elemen formal yang
bersifat ganda, antara kerjasama dan konflik, antara superordinasi dan
subordinasi, antara intimacy (keakraban) dan jarak sosial, yang kesemuanya
dijalankan di dalam hubungan yang teratur di dalam stuktur yang
kurang lebih bersifat birokratis. Dalam bentuk yang konkrit, kenyataan tersebut
ke arah yang bertentangan satu sama lain karena tidak satu pun dari berbagai
kenyataan atau gejala itu dapat dilihat dalam bentuk yang benar-benar murni
Oleh
karena itu tidak ada konflik yang benar-benar murni, sama halnya dengan
kerjasama. Menurut Simmel, perhubungan sosial selalu mencakup di dalam diri
harmoni dan konflik, penarikan dan penolakan, cinta dan kebencian. Pendeknya
Simmel melihat bagaimana hubungan manusia selalu ditandai oleh adanya
ambivalensi atau sikap mendua. Bagi Simmel konflik adalah merupakan sesuatu
yang essensial dari kehidupan sosial sebagai sesuatu yang tidak dapat
dihilangkan di dalam komponen kehidupan sosial. Masyarakat yang baik bukanlah
masyarakat yang bebas dari konflik, sebaliknya dalam bentuk bersama dari
berbagai konflik menyilang antara bagian-bagian dari komponen masyarakat.
Perdamaian dan permusuhan, konflik dan ketertiban sebenarnya bersifat
korelatif.
Keduanya
sama-sama memperteguh dan juga sama menghancurkan bagian-bagian dari
adat-istiadat yang ada sebagai dialektika abadi dari kehidupan masyarakat. Oleh
karena itu akan merupakan kesalahan sosiologis apabila orang mencoba
memisahkan antara sesuatu yang teratur atau tertib dengan yang tidak
tertib, antara model masyarakat yang mencapai harmoni dengan yang mengalami
konflik, sebab antara keduanya bukan merupakan realita yang berbeda, melainkan
hanya berbeda di dalam aspek formalnya belaka dari suatu realita yang sama.
Dalam
pandangan Simmel, pokok permasalahan yang sangat tepat untuk sosiologi adalah
bentuk-bentuk interaksi dibandingkan dengan isi interaksi. Bentuk-bentuk
seperti sosiabilitas menunjukkan pentingnya pembedaan itu, karena bentuk-bentuk
khusus itu dapat dimengerti tanpa harus menghubungkannya dengan isinya. Bentuk
superordinasi dan subordinasi berbeda, menurut apakah subordinasi itu di bawah
satu orang, sejumlah orang, atau suatu prinsip yang ideal. Demikian pula,
bentuk-bentuk konflik berbeda menurut tingkat keakraban atau keterlibatan dari
pihak-pihak dalam konflik itu secara timbal balik.
Meskipun
Simmel tidak menghasilkan suatu teori sosiologi yang sistematis atau
komprehensif, tekanannya pada bentuk-bentuk atau pola-pola interaksi adalah
penting dalam perspektif sosiologi masa kini. Misalnya, pada awal-awal studi
sosiologinya, para mahasiswa mempelajari pentingnya konformitas normatif.
Contoh yang sederhana ini menggambarkan suatu bentuk sosial tanpa isi tertentu
apapun. Distingsi lainnya dapat ditambahkan, seperti konformitas yang
dihasilkan oleh suatu ikatan emosional yang kuat dengan kelompok itu versus
konformitas yang muncul karena ketakutan akan hukuman, tipe analisa ini
bersifat sama dimana perbedaan antara tipe-tipe atau subtipe dari bentuk-bentuk
yang terlepas dari isinya.
Meskipun
banyak dari sketsa sosiologi yang terkenal dari Simmel berada pada tingkat
mikro, dia tidak membatasi dirinya pada tingkat ini. Analisanya mengenai
differensiasi sosial dan individualitas serta mengenai konflik dialektis antara
bentuk-bentuk budaya obyektif dan pengalaman pribadi, subyektif juga berada
pada tingkat mikro. Analisa-analisa tingkat mikro masa kini mengenai struktur
sosial sebagai suatu kompleks bentuk-bentuk interaksi yang saling berhubungan
dan saling tergantung, sejalan dengan pendekatan Simmel dalam tekanannya mengenai
bentuk-bentuk sosial yang umum dan bukan isi yang khusus.
Sekalipun
masyarakat bukan badan yang berdiri sendiri, kita boleh mengatakan, bahwa
masyarakat bukan kesatuan obyektif. Dalam penjelasan atas pernyataan ini
Simmel telah memberikan beberapa pengertian dasar kepada ilmu sosial modern.
· Masyarakat
terdiri dari jaringan relasi-relasi antara orang, yang menjadikan mereka
bersatuu. Masyarakat bukan badan fisik, juga bukan bayangan saja didalam kepala
mereka, melainkan sejumlah pola perilaku yang disepakati dan ditunjang bersama.
Pengertian ini dinamakan Sosiologi theory of action (teori tindakan ).
Interaksi anggota yang bertumpu pada konsepsi-konsepsi dan pola-pola perilaku
yang ditunjang bersama, itulah satu-satunya titik tolak agar kita mencapai
suatu pengertian akan masyarakat yang sebenarnya.
Terdorong dari dalam batin oleh
bermacam-macam kebutuhan dan tujuan manusia mencari kontak dengan orang lain.
Misalnya kebutuhan akan berkomunikasi membuat dia menghubungi orang lain untuk
mencari dan pada akhirnya menyepakati salah satu system symbol-simbol yang
disebut bahasa atau hal yang serupa. Komunikasi adalah salah satu interaksi,
dimana para partisipan memakai bahasa atau symbol –simbol lain,yang disepakati
bersama atau setidak-tidaknya diterima bersama. Melalui sarana-sarana itu
mereka saling mempengaruhi, kebutuhan akan pertahanan diri, rekreasi, pemuasan
seksual, prokreasi, pendidikan anak, hubungan dengan Tuhan, sandang pangan dan
banyak hal lain, mempertemukan orang kedalam relasi-relasi timbal balik
yang bentuknya ditetapkan sedemikian rupa, hingga kurang lebih mengikat bagi
mereka. Kalau interaksi berlangsung dengan memakai sarana-sarana dan atas cara
yang diakui bersama kehidupan sosial tampak.
· Relasi-relasi
aktif antara orang yang berkelompok atau bermasyarakat, tidak semua sama
sifatnya. Relasi-relasi itu dapat mengarah kepada community (Gemeinschaft,
paguyuban ) atau kepada association (gesellschaft, patembayan). Sama seperti
Ferdinand tennis, simmel juga mengatakan bahwadi zaman sekarang ada
kecenderungam untuk menggantikan pola relasi bersifat afektif dan
personal (gemeinschaft) dengan pola bersifat fungsional dan rasional.
· Kesatuan-kesatuan
sosial tidak hanya terbentuk dari relasi-relasi intergratif dan harmonis. Demi
tercapai suatu strukturisasi sosial yang sehat, maka kritik, oposisi,
persaingan dan sikap iri hati sama diperlukan seperti kesesuaian paham,
partisipasi dan persahabatan.
· Tidak
semua semua kesatuan sosial lama waktu dan intensitas yang sama. Ada kelompok
yang mempunyai frekuensi interaksi dan kadar intergrasi yang tinggi, tetapi
juga ada yang mempunyai intergrasi dan interaksi yang rendah. Semakin
pentinglah yang mempertemukan orang yang dalam relasi-relasi timbal balik
semakin cepat juga relasi –relasi itu dilembagakan (menjadi pranata).
KATA KUNCI:
- Masyarakat dibentuk oleh individu, begitupun sebaliknya individu dibentuk oleh lingkungan masyarakat
- Masyarakat terbentuk karena adanya individu yang saling berinteraksi
- Kesatuan masyarakat terbentuk karena adanya tujuan dan kepentingan yang sama
- Tidak semua masyarakat dasarnya sama, ada masyarakat gemeinscaft dan ada masyarakat gesselscaft
- Interaksi memiliki intensitasnya masing-masing
Pemikiran Georg Simmel
Ø Georg Simmel dalam konteks social
Georg Simmel hidup dalam
keadaan sosial Jerman yang bergejolak. Selama akhir abad ke-19 Jerman mengalami
suatu perkembangan yang meledak dalam bidang industri kapitalis, serta
urbanisasi yang meningkat dengan pesat. Berlin adalah pusat kegiatan ekonomi
dan perdagangan, baik kelas borjuis maupun kelas proletariat meluas dengan
pesat. Namun demikian, suasana politik Jerman sangat mencerminkan nilai-nilai
aristokrasi semi feodal dan ideal disiplin militer Prusia. Kedudukan kaum buruh
yang semakin baik diimbangi dengan berbagai usaha kesejahteraan, tetapi pada umumnya
struktur sosial ditandai oleh suatu perbedaan antara etos kapitalis yang sedang
muncul dalam bidang ekonomi dan seperangkat ideal prakapitalis dalam bidang
politik. Dalam kondisi seperti ini, Simmel tidak mau terlibat dalam bidang
politik, kalaupun ia berbicara tentang masalah sosial politik atau ekonomi, itu
hanya digunakannya untuk menggambarkan pokok-pokok pemikiran teoritisnya yang
umum. Meskipun Simmel menolak model masyarakat yang bersifat organik, dalam hal
tertentu ia dipengaruhi oleh model evolusi Spencer mengenai kompeksitas sosial
yang semakin bertambah. Evolusi ini berusaha menjelaskan perubahan masyarakat
secara bertahap dari suatu struktur yang sederhana dengan diferensiasi yang
rendah dan sangat homogen, ke suatu struktur yang lebih kompleks dengan
diferensiasi serta heterogenitas yang tinggi. Publikasi Simmel yang pertama
berjudul “On social differentiation” menjelaskan dasar-dasar pembentukan
kelompok yang berubah dan keterlibatan sosial dari individu.
Yang banyak memberikan pengaruh pada
Simmel adalah seorang ahli filsafat Jerman yang bernama Immanuel Kant. Kant
mengembangkan suatu perspektif filosofis yang didasarkan pada pembedaan antara
persepsi manusia mengenai gejala dan hakikat dasar dari benda-benda seperti
mereka berada dalam dirinya sendiri. Ia memperlihatkan bahwa kita tidak pernah
dapat mengetahui benda seperti benda itu berada dalam dirinya sendiri, tetapi
hanya karena mereka muncul menurut kategori-kategori kesadaran atau pikiran
tertentu yang bersifat a priori. Menurut Kant ada kategori pikiran fundamental
tertentu yang bersifat a priori (ruang, waktu, sebab dan seterusnya) yang tidak
didasarkan pada rangsangan inderawi tetapi membentuk kesadaran subjektif kita
akan dunia empiris diluar kita. Begitu Simmel menerapkan model berfikir ini
tentang kenyataan sosial, ia menyadari bahwa perkembangan pengetahuan sosiologi
meliputi lebih daripada hanya sekedar mencatat hukum-hukum universal yang jelas
tersingkap oleh data empiris. Sebaliknya pikiran manusia dalam menjalankan
fungsi memilih, mengorganisasi pada waktu menginterpretasikan data empiris, ia
menggunakan kriterianya sendiri dalam proses ini yang tidak terdapat dalam
fakta empiris itu sendiri.
Simmel juga menganalisa konflik
dialektik antara bentuk-bentuk sosial yang sudah mapan yang tercermin dalam
institusi-institusi yang ada dan pola-pola budaya serta proses hidup itu
sendiri yang secara terus menerus harus menciptakan bentuk baru bagi
pengungkapannya sendiri. Perhatian Simmel tidak hanya pada sosiologi, ia
menulis banyak hal dan memberi kuliah dalam bidang filsafat, etika, sejarah,
kritik budaya umumnya, seni dan kritik sastra khususnya.
Munculnya Masyarakat Menurut Georg
Simmel
Munculnya masyarakat menurut Simmel
dikenal dengan istilah vergesellschaftung yang secara harfiah berarti “proses
terjadinya masyarakat”, atau disebut juga dengan istilah “Sosiasi” (sociation).
Jadi munculnya masyarakat terjadi karena adanya interaksi timbal balik yang
mana dalam proses tersebut individu akan saling berhubungan dan saling
mempengaruhi. Masyarakat lebih daripada jumlah individu yang membentuknya lalu
ditambah dengan pola interaksi timbal balik dimana mereka saling berhubungan
dan saling mempengaruhi. Akan tetapi masyarakat tidak akan pernah ada sebagai
suatu benda objektif yang terlepas dari anggota-anggotanya. Kenyataan itu
terdiri dari kenyataan proses interaksi timbal balik. Pendekatan ini
mengusahakan keseimbangan antara pandangan nominalis (yang percaya hanya pada
individu yang riil) dan pandangan realis atau teori organik (yang mengemukakan
bahwa kenyataan sosial itu bersifat independen dari individu yang
membentuknya).
Contoh terbentuknya masyarakat menurut
Simmel, misalnya sejumlah individu yang terpisah satu sama lain atau berdiri
sendiri-sendiri saja, yang sedang menunggu dengan tenang di terminal lapangan
udara tidak membentuk jenis masyarakat atau kelompok. Tetapi kalau ada
pengumuman yang mengatakan bahwa kapal akan tertunda beberapa jam karena
tabrakan, beberapa orang mungkin mulai berbicara dengan orang disampingnya, dan
disanalah muncul masyarakat. Dalam hal ini masyarakat (sosietalisasi) yang
muncul akan sangat rapuh dan sementara sifatnya, dimana ikatan-ikatan interaksi
timbal baliknya itu bersifat sementara saja. Proses munculnya masyarakat sangat
banyak macamnya, mulai dari pertemuan sepintas lalu antara orang-orang asing
ditempat-tempat umum sampai ke ikatan persahabatan yang lama dan intim atau
hubungan keluarga. Tanpa memandang tingkat variasinya, proses sosiasi ini
mengubah suatu kumpulan individu saja menjadi satu masyarakat
(kelompok/sosiasi). Masyarakat ada pada tingkat tertentu dimana dan apabila
sejumlah individu terjalin melalui interaksi dan saling mempengaruhi.
Dyad dan Triad
Adapun yang membedakan antara hubungan
dyad dan triad adalah jumlah orang yang terlibat dalam interaksi tersebut.
Seperti yang dikemukakan oleh Simmel begitu jumlah orang yang terlibat dalam
interaksi berubah, maka bentuk interaksi merekapun berubah dengan teratur dan
dapat diramalkan. Simmel berpendapat bahwa unit terkecil dalam kehidupan
manusia yang menjadi ruang lingkup
perhatian sosiologi adalah dyad, yang merupakan unit atau kelompok yang
terdiri dari dua orang. Bentuk dyad (duaan) memperlihatkan ciri khas yang unik
sifatnya yang tidak terdapat dalam satuan sosial apapun yang lebih besar.
Contohnya adalah, suami dan isteri, dua orang sahabat karib dan seterusnya.
kalau seseorang individu memilih untuk keluar dari suatu kelompok dyad (duaan)
maka satuan sosial itu sendiri akan hilang lenyap. Sebaliknya, dalam semua
kelompok lainnya, hilangnya satu orang anggota tidak ikut menghancurkan
keseluruhan satuan sosial itu. Dalam
dyad tersebut kemungkinan besar yang terjadi adalah bahwa salah satu pihak
tenggelam dalam kedudukan dan peranan pihak lain.
Oleh karena dyad terdiri dari dua pihak,
maka tidak ada pihak lain yang mungkin menengahinya, sehingga Simmel
berkesimpulan kedua pihak tersebut sebenarnya merupakan suatu kesatuan
perasaan. Di dalam dyad terdapat hubungan yang sangat erat dan menyatu. Maka,
ada kemungkinan terjadi konflik atau pertikaian. Kesatuan perasaan tersebut
kadang terganggu oleh tindakan masing-masing pihak yang mungkin mengakibatkan
terjadi konflik. Hubungan dyad tidak selalu disertai oleh perasaan-perasaan
positif. Dalam situasi konflik, apapun masalah dan sebab musababnya, hubungan
yang sangat intim seringkali membuat konflik malah menjadi lebih parah. Masalah
konflik yang kelihatannya sepele bagi orang luar, ditanggapi dengan sangat
emosional. Sesungguhnya keterbukaan mereka satu sama lain pada tingkat
kepribadian yang sangat dalam membuat mereka mudah saling menyerang yang
berhubungan dengan masalah kepribadian ini. Ketiadaaan pihak ketiga menimbulkan
situasi dimana tidak ada pemisah ketika mereka berkonflik. Ketiadaan pihak
ketiga memang meningkatkan keakraban dalam dyad. Akan tetapi, bila terjadi
konflik, timbul kebutuhan akan adanya pihak ketiga. Hadirnya pihak ketiga dapat
menetralisasi ketegangan yang ada. Simmel menyatakan, adanya pihak ketiga akan
menyebabkan pihak yang terlibat dalam konflik mengemukakan pendapatnya secara
lebih rasional, sehingga kemungkinan terjadinya perdamaian lebih besar.
Triad disini diartikan sebagai pihak
ketiga. Salah satu pokok pikiran Simmel yang terkenal adalah diskusinya
mengenai berbagai peran yang dapat dilakukan oleh pihak ketiga. Menurut Simmel,
triad cenderung tidak stabil, karena secara koheren, terkait dengan pembentukan
suatu koalisi dua pihak yang berhadapan dengan satu pihak lain. Pihak yang
ditempatkan dalam kedudukan ketiga atau status yang tersingkir, senantiasa
berubah. Simmel telah menyajikan pelbagai contoh mengenai efek pihak ketiga.
Dia memberikan contoh, orang-orang Eropa cenderung untuk memperkerjakan hanya
seorang pembantu, padahal mereka mampu untuk membayar gaji lebih banyak
pembantu. Dengan adanya lebih dari seorang pembantu, timbul ciri-ciri suatu
triad, sehingga hubungan antara pembantu dengan majikan lebih bersifat formal.
Apabila terjadi penambahan jumlah orang
(artinya lebih dari tiga), maka hal itu mempunyai akibat tertentu terhadap
hakikat interaksi dalam suatu kelompok. Simmel pernah mengemukakan suatu
hipotesa yang menyatakan, bahwa semakin besar suatu kelompok semakin besar pula
kecenderungan terjadinya bentuk interaksi seperti dyad. Selama terjadinya
proses menuju bentuk hubungan sebagaimana halnya dengan suatu dyad dalam suatu
kelompok besar, setiap pihak atau kategori cenderung menerima anggota-anggota
yang memiliki ciri-ciri pokok sama, misalnya : kekayaan, pola sikap tindak,
dst. Kecenderungan terjadinya konflik dalam triad merupakan masalah yang menjadi
salah satu pusat perhatian studi Simmel. Hal ini antara lain disebabkan karena
terdapatnya banyak kesempatan pada pihak-pihak dalam triad untuk melaksanakan
pelbagai peranan.
Pemikiran sosiologi mikro Georg
Simmel
Georg Simmel muncul di dunia
ilmu sosiologi dengan menghadirkan pokok-pokok pemikiran yang lebih mengulas
pada sosiologi mikro, meskipun demikian ia tetap berkiprah dengan terus
menghasilkan pemikiran kritis tentang komponen-komponen kehidupan sosial dan
hubungan antar pribadi, sedangkan untuk lingkup yang lebih luas atau makro,
karyanya tentang struktur dan perubahan dalam semangat sosial pada zamannya. Pokok
pemikiran mikro Georg Simmel adalah :
·
Kesadaran individu
·
Konsep sosiologi
·
Realitas social
·
Interaksi social
·
Pengaruh jumlah pada bentuk social
·
Kreatifitas individu versus bentuk budaya yang mapan
·
Uang dan nilai
Karya-karyanya yang terkenal tidak serta
merta menjadi hal yang dapat diterima orang dengan mudah, karena ia terhalang
suatu hal yang berawal dari latar belakangnya, kala itu keadaan antisemitisme
menjadikan dirinya merasa terkucilkan. Antisemitisme adalah suatu sikap
permusuhan atau prasangka terhadap kaum Yahudi dalam bentuk-bentuk
penganiayaan/penyiksaan terhadap agama, etnik, maupun kelompok ras, mulai dari
kebencian terhadap individu hingga lembaga. Fenomena yang paling terkenal akan
anti-semitisme adalah ideologi Nazisme dari Adolf Hitler, yang menyebabkan
permusuhan terhadap kaum Yahudi di Eropa.
Ø
Interaksionisme Simbolik
Adanya kesadaran individu yang
dikemukakan oleh Georg Simmel menjadi sumber awal Simmel dalam mengkaji lebih
jauh tentang interaksi sosial, ia telah melakukan teoretisasi masalah
modernitas dengan penekanan pada perkembangan pesat dari ilmu, teknologi,
pengetahuan obyektif, berikut diferensiasinya di satu sisi dan erosi budaya
subyektif di sisi lain. Konflik dan krisis kebudayaan modern dilukiskan Simmel
dalam bentuk pemiskinan-subyektivitas yang disebutnya endemi atrophy
(terhentinya pertumbuhan budaya subyektif) karena hypertrophy (penyuburan
budaya obyektif). Simmel berusaha menjelaskan adanya ketimpangan budaya
individu atas manusia sebagai subjeknya dibandingkan dengan perkembangan media
atau sarana kehidupan yang mengurangi peran aktif manusia dalam berkarya. Sehubungan dengan
fenomena endemi antrophy interaksi menjadi salah satu pokok pemikiran dalam
teori Simmel.
Masyarakat, kemudian, dapat
didefinisikan sebagai sejumlah individu yang dihubungkan dengan interaksi..
Interaksi ini dapat menjadi mengkristal sebagai bidang permanen.. Hubungan ini,
atau bentuk sociation, sangat penting karena mereka menunjukkan bahwa
masyarakat bukan merupakan substansi, tetapi sebuah peristiwa, dan karena
bentuk-bentuk sociation mengatasi individu / dualisme sosial (individu terlibat
dengan satu sama lain dan dengan demikian merupakan sosial). Sedangkan
interaksi sosial menurut Georg Simmel memiliki point-point tersendiri yang
menurutnya merupakan hal yang perlu untuk disertakan dalam teori-teorinya, Simmel
mengungkapkan beberapa interaksi, yaitu:
1)
Menurut bentuk, meliputi :
·
Subordinasi (ketaatan)
·
Superordinasi (dominasi)
·
Hubungan seksual
·
Konflik
·
Sosiabilita (interaksi yang terjadi demi interaksi itu sendiri dan bukan
untuk tujuan lain)
2)
Menurut tipe, meliputi :
·
interaksi yang terjadi antar individu-individu
·
interaksi yang terjadi antar individu-kelompok
·
interaksi yang terjadi antar kelompok-individu
Pada keadaan yang sama yaitu kehidupan
dengan interaksi dan komunikasi dapat menumbuhkan kemungkinan-kemungkinan
tertentu, dimana memiliki dampak positif dan negatif, ada pada suatu saat
seseorang merasakan kedekatan, kekompakan, dan kebersamaan baik secara pribadi
maupun kelompok. Adanya kontak merupakan
faktor yang mendorong terjadinya komunilkasi , kontak tersebut terdiri dari
kontak secara langsung maupun secara tidak langsung ( melalui media ), dan
komunikasi itu sendiri adalah gambaran dari adanya interaksi dalam hidupnya
dengan orang lain. Simmel juga memusatkan pemikirannya mengenai relasi,
khususnya interaksi antar pemeran sadar dan tujuannya adalah melihat besarnya
cakupan interaksi yang mungkin sepele namun pada saat lain sangat penting.
Menurut Simmel interaksi timbul karena kepentingan-kepentingan dan dorongan
tertentu (Soerjono Soekanto, 405:2003). Salah satu bentuk interaksi yang
dibicarakan Simmel adalah gaya (fashion). Gaya adalah bentuk relasi sosial yang
menginginkan orang menyesuaikan diri dengan keinginan kelompok. Gaya bersifat
dialektis yang berarti keberhasilan dan persebaran gaya akan berujung pada
kegagalan. Hal positif yang muncul dari adanya interaksi bisa terjadi melalui
terjalinnya solidaritas masyarakat, dan hal negatif adalah berupa adanya konflik.
Minat Simmel pada bentuk interaksi menuai banyak kritikan. Ia dituduh memaksa
suatu tatanan yang sebenarnya tidak ada dan menghasilkan studi yang tidak
saling terkait yang akhirnya sama sekali tidak menerapkan tatanan yang lebih
baik pada realitas sosial. Menurut bentuknya terdapat konsep yang disebut
dengan Subordinasi (ketaatan) dan Superordinasi (dominasi).