Senin, 09 September 2013

MASYARAKAT SEBAGAI PROSES INTERAKSI: GEORGE SIMMEL

MASYARAKAT SEBAGAI PROSES INTERAKSI: GEORGE SIMMEL

MASYARAKAT SEBAGAI PROSES INTERAKSI
      GEORGE SIMMEL (1858-1918)
Lahir di Kota Berlin sebagai keturunan Yahudi. Tahun 1881 memperoleh gelar doctor cum laude di bidang filsafat. Simmel menjauhkan diri dari organisisme dan mekanisisme. Dalam penjelasannya atas pernyataan inim Simmel telah member pengertian dasar kepada ilmu sosial modern.
Menurut Simmel masyarakat adalah suatu bentuk interaksi sosial atau hubungan sosial yang terpola seperti halnya jaring laba-laba dan tugas sosiolog untuk meneliti bentuk interaksi sedemikian itu bagaimana mereka terjadi dan mewujud di dalam kehidupan sejarah dan seiring dengan budaya yang berbeda. Adapun bentuk-bentuk dari hubungan sosial menurut Simmel: Dominasi (penguasaan), Subordinasi (penundukan), kompetisi, imitasi, pembagian pekerjaan, pembentukan kelompok atau partai-partai dan banyak lagi bentuk perhubungan sosial lain yang semuanya selalu terdapat di dalam kesatuan-kesatuan sosial seperti kesatuan agama, kesatuan keluarga, kesatuan organisasi dagang, sekolah dan lain-lain.
Simmel selalu berusaha untuk melakukan analisa, klasifikasi, dan interpretasi dari bentuk-bentuk hubungan sosial seperti masalah isolasi, kontak-kontak sosial, differensiasi sosial, superordinasi, oposisi dan sebagainya. Masyarakat terdiri dari jaringan yang banyak liku-likunya dari suatu hubungan yang bersifat ganda diantara individu di dalam suatu interaksi yang konstan. Masyarakat hanyalah sebuah nama untuk sejumlah individu-individu yang di hubungkan oleh interaksi. Struktur super-individual yang lebih luas seperti halnya negara, keluarga, klan, kota, atau persekutuan dagang hanyalah sebuah bentuk kristalisasi dari interaksi sedemikian itu. Sosiologi adalah ”Master Science” dari mana orang dapat menemukan hukum-hukum yang mengatur semua perkembangan sosial.
Masalah-masalah pokok yang sah dipelajari sosiologi terletak pada deskripsi dan analisa bentuk-bentuk khusus dari interaksi sosial manusia dan kristalisasi di dalam kelompok dengan karakteristiknya masing-masing. Sekalipun tingkah laku manusia adalah tingkah laku individu, akan tetapi banyak tingkah laku manusia dapat diterangkan melalui afiliasi individu terhadap kelompoknya, maupun pembatasan-pembatasan yang diberikan kepada individu tersebut melalui bentuk-bentuk khusus dari interaksi.
Lapangan penyelidikan utama untuk mempelajari masyarakat adalah ”Sociation” yaitu pola-pola dan bentuk-bentuk khusus manusia melakukan asosiasi dan berinteraksi satu sama lain. Simmel memandang bahwa stuktur kelembagaan yang lebih luas juga merupakan lapangan yang syah bagi studi sosiologinya. Dia lebih suka membatasi karyanya pada penyelidikan tentang apa yang disebutnya interaksi diantara atom-atom masyarakat, terutama pada pola-pola dasar dari interaksi antara individu-individu yang berada di bawah kelompok sosial yang lebih luas, yang sekarang dikenal dengan micro sociology. Perhatiannya hanya pada bentuk-bentuk interaksi.
Pernyataan di atas menjelaskan mengapa Simmel disebut tokoh sosiologi formal. Simmel juga menggunakan pendekatan dialektis di dalam mengembangkan sosiologinya yang mengaitkan hubungan sosial yang dinamis dan hubungan sosial di dalam konflik-konflik. Dari pernyataan Simmel sebelumnya, individu adalah produk dari masyarakat. Sebagai produk dari masyarakat, individu merupakan mata rantai di dalam proses sosial. Individu yang tersosialisasikan di dalam kehidupan masyarakat selalu memiliki hubungan yang bersifat dualistis. Di satu pihak merupakan anggota masyarakat dan disosialisasikan di dalam masyarakat tersebut, tapi pada saat yang sama juga menentang masyarakat itu sendiri.
Bagi Simmel, bentuk-bentuk yang ditemukan dalam kenyataan sosial tidak pernah bersifat murni. Setiap fenomena sosial selalu merupakan elemen formal yang bersifat ganda, antara kerjasama dan konflik, antara superordinasi dan subordinasi, antara intimacy (keakraban) dan jarak sosial, yang kesemuanya dijalankan di dalam hubungan   yang teratur di dalam stuktur yang kurang lebih bersifat birokratis. Dalam bentuk yang konkrit, kenyataan tersebut ke arah yang bertentangan satu sama lain karena tidak satu pun dari berbagai kenyataan atau gejala itu dapat dilihat dalam bentuk yang benar-benar murni
Oleh karena itu tidak ada konflik yang benar-benar murni, sama halnya dengan kerjasama. Menurut Simmel, perhubungan sosial selalu mencakup di dalam diri harmoni dan konflik, penarikan dan penolakan, cinta dan kebencian. Pendeknya Simmel melihat bagaimana hubungan manusia selalu ditandai oleh adanya ambivalensi atau sikap mendua. Bagi Simmel konflik adalah merupakan sesuatu yang essensial dari kehidupan sosial sebagai sesuatu yang tidak dapat dihilangkan di dalam komponen kehidupan sosial. Masyarakat yang baik bukanlah masyarakat yang bebas dari konflik, sebaliknya dalam bentuk bersama dari berbagai konflik menyilang antara bagian-bagian dari komponen masyarakat. Perdamaian dan permusuhan, konflik dan ketertiban sebenarnya bersifat korelatif.
Keduanya sama-sama memperteguh dan juga sama menghancurkan bagian-bagian dari adat-istiadat yang ada sebagai dialektika abadi dari kehidupan masyarakat. Oleh karena itu akan merupakan kesalahan sosiologis apabila orang mencoba memisahkan  antara sesuatu yang teratur atau tertib dengan yang tidak tertib, antara model masyarakat yang mencapai harmoni dengan yang mengalami konflik, sebab antara keduanya bukan merupakan realita yang berbeda, melainkan hanya berbeda di dalam aspek formalnya belaka dari suatu realita yang sama.
Dalam pandangan Simmel, pokok permasalahan yang sangat tepat untuk sosiologi adalah bentuk-bentuk interaksi dibandingkan dengan isi interaksi. Bentuk-bentuk seperti sosiabilitas menunjukkan pentingnya pembedaan itu, karena bentuk-bentuk khusus itu dapat dimengerti tanpa harus menghubungkannya dengan isinya. Bentuk superordinasi dan subordinasi berbeda, menurut apakah subordinasi itu di bawah satu orang, sejumlah orang, atau suatu prinsip yang ideal. Demikian pula, bentuk-bentuk konflik berbeda menurut tingkat keakraban atau keterlibatan dari pihak-pihak dalam konflik itu secara timbal balik.
Meskipun Simmel tidak menghasilkan suatu teori sosiologi yang sistematis atau komprehensif, tekanannya pada bentuk-bentuk atau pola-pola interaksi adalah penting dalam perspektif sosiologi masa kini. Misalnya, pada awal-awal studi sosiologinya, para mahasiswa mempelajari pentingnya konformitas normatif. Contoh yang sederhana ini menggambarkan suatu bentuk sosial tanpa isi tertentu apapun. Distingsi lainnya dapat ditambahkan, seperti konformitas yang dihasilkan oleh suatu ikatan emosional yang kuat dengan kelompok itu versus konformitas yang muncul karena ketakutan akan hukuman, tipe analisa ini bersifat sama dimana perbedaan antara tipe-tipe atau subtipe dari bentuk-bentuk yang terlepas dari isinya.
Meskipun banyak dari sketsa sosiologi yang terkenal dari Simmel berada pada tingkat mikro, dia tidak membatasi dirinya pada tingkat ini. Analisanya mengenai differensiasi sosial dan individualitas serta mengenai konflik dialektis antara bentuk-bentuk budaya obyektif dan pengalaman pribadi, subyektif juga berada pada tingkat mikro. Analisa-analisa tingkat mikro masa kini mengenai struktur sosial sebagai suatu kompleks bentuk-bentuk interaksi yang saling berhubungan dan saling tergantung, sejalan dengan pendekatan Simmel dalam tekanannya mengenai bentuk-bentuk sosial yang umum dan bukan isi yang khusus.
Sekalipun masyarakat bukan badan yang berdiri sendiri, kita boleh mengatakan, bahwa masyarakat bukan kesatuan obyektif. Dalam penjelasan atas pernyataan ini  Simmel telah memberikan beberapa pengertian dasar kepada ilmu sosial modern.
·         Masyarakat terdiri dari jaringan relasi-relasi antara orang, yang menjadikan mereka bersatuu. Masyarakat bukan badan fisik, juga bukan bayangan saja didalam kepala mereka, melainkan sejumlah pola perilaku yang disepakati dan ditunjang bersama. Pengertian ini dinamakan  Sosiologi theory of action (teori tindakan ). Interaksi anggota yang bertumpu pada konsepsi-konsepsi dan pola-pola perilaku yang ditunjang bersama, itulah satu-satunya titik tolak agar kita mencapai suatu pengertian akan masyarakat yang sebenarnya.
Terdorong dari dalam batin oleh bermacam-macam kebutuhan dan tujuan manusia mencari kontak dengan orang lain. Misalnya kebutuhan akan berkomunikasi membuat dia menghubungi orang lain untuk mencari dan pada akhirnya menyepakati salah satu system symbol-simbol yang disebut bahasa atau hal yang serupa. Komunikasi adalah salah satu interaksi, dimana para partisipan memakai bahasa atau symbol –simbol lain,yang disepakati bersama atau setidak-tidaknya diterima bersama. Melalui sarana-sarana itu mereka saling mempengaruhi, kebutuhan akan pertahanan diri, rekreasi, pemuasan seksual, prokreasi, pendidikan anak, hubungan dengan Tuhan, sandang pangan dan banyak hal lain, mempertemukan orang kedalam  relasi-relasi timbal balik yang bentuknya ditetapkan sedemikian rupa, hingga kurang lebih mengikat bagi mereka. Kalau interaksi berlangsung dengan memakai sarana-sarana dan atas cara yang diakui bersama kehidupan sosial tampak.
·         Relasi-relasi aktif antara orang yang berkelompok atau bermasyarakat, tidak semua sama sifatnya. Relasi-relasi itu dapat mengarah kepada community (Gemeinschaft, paguyuban ) atau kepada association (gesellschaft, patembayan). Sama seperti Ferdinand tennis, simmel juga mengatakan bahwadi zaman sekarang ada kecenderungam untuk menggantikan pola relasi  bersifat afektif dan personal (gemeinschaft) dengan pola bersifat fungsional dan rasional.
·         Kesatuan-kesatuan sosial tidak hanya terbentuk dari relasi-relasi intergratif dan harmonis. Demi tercapai suatu strukturisasi sosial yang sehat, maka kritik, oposisi, persaingan dan sikap iri hati sama diperlukan seperti kesesuaian paham, partisipasi dan persahabatan.
·         Tidak semua semua kesatuan sosial lama waktu dan intensitas yang sama. Ada kelompok yang mempunyai frekuensi interaksi dan kadar intergrasi yang tinggi, tetapi juga ada yang mempunyai intergrasi dan interaksi yang rendah. Semakin pentinglah yang mempertemukan orang yang dalam relasi-relasi timbal balik semakin cepat juga relasi –relasi itu dilembagakan (menjadi pranata).
KATA KUNCI:
  1. Masyarakat dibentuk oleh individu, begitupun sebaliknya individu dibentuk oleh lingkungan masyarakat 
  2.  Masyarakat terbentuk karena adanya individu yang saling berinteraksi
  3. Kesatuan masyarakat terbentuk karena adanya tujuan dan kepentingan yang sama 
  4.  Tidak semua masyarakat dasarnya sama, ada masyarakat gemeinscaft dan ada masyarakat gesselscaft 
  5.  Interaksi memiliki intensitasnya masing-masing






Pemikiran Georg Simmel
Ø  Georg Simmel dalam konteks social
Georg Simmel hidup dalam keadaan sosial Jerman yang bergejolak. Selama akhir abad ke-19 Jerman mengalami suatu perkembangan yang meledak dalam bidang industri kapitalis, serta urbanisasi yang meningkat dengan pesat. Berlin adalah pusat kegiatan ekonomi dan perdagangan, baik kelas borjuis maupun kelas proletariat meluas dengan pesat. Namun demikian, suasana politik Jerman sangat mencerminkan nilai-nilai aristokrasi semi feodal dan ideal disiplin militer Prusia. Kedudukan kaum buruh yang semakin baik diimbangi dengan berbagai usaha kesejahteraan, tetapi pada umumnya struktur sosial ditandai oleh suatu perbedaan antara etos kapitalis yang sedang muncul dalam bidang ekonomi dan seperangkat ideal prakapitalis dalam bidang politik. Dalam kondisi seperti ini, Simmel tidak mau terlibat dalam bidang politik, kalaupun ia berbicara tentang masalah sosial politik atau ekonomi, itu hanya digunakannya untuk menggambarkan pokok-pokok pemikiran teoritisnya yang umum. Meskipun Simmel menolak model masyarakat yang bersifat organik, dalam hal tertentu ia dipengaruhi oleh model evolusi Spencer mengenai kompeksitas sosial yang semakin bertambah. Evolusi ini berusaha menjelaskan perubahan masyarakat secara bertahap dari suatu struktur yang sederhana dengan diferensiasi yang rendah dan sangat homogen, ke suatu struktur yang lebih kompleks dengan diferensiasi serta heterogenitas yang tinggi. Publikasi Simmel yang pertama berjudul “On social differentiation” menjelaskan dasar-dasar pembentukan kelompok yang berubah dan keterlibatan sosial dari individu.
Yang banyak memberikan pengaruh pada Simmel adalah seorang ahli filsafat Jerman yang bernama Immanuel Kant. Kant mengembangkan suatu perspektif filosofis yang didasarkan pada pembedaan antara persepsi manusia mengenai gejala dan hakikat dasar dari benda-benda seperti mereka berada dalam dirinya sendiri. Ia memperlihatkan bahwa kita tidak pernah dapat mengetahui benda seperti benda itu berada dalam dirinya sendiri, tetapi hanya karena mereka muncul menurut kategori-kategori kesadaran atau pikiran tertentu yang bersifat a priori. Menurut Kant ada kategori pikiran fundamental tertentu yang bersifat a priori (ruang, waktu, sebab dan seterusnya) yang tidak didasarkan pada rangsangan inderawi tetapi membentuk kesadaran subjektif kita akan dunia empiris diluar kita. Begitu Simmel menerapkan model berfikir ini tentang kenyataan sosial, ia menyadari bahwa perkembangan pengetahuan sosiologi meliputi lebih daripada hanya sekedar mencatat hukum-hukum universal yang jelas tersingkap oleh data empiris. Sebaliknya pikiran manusia dalam menjalankan fungsi memilih, mengorganisasi pada waktu menginterpretasikan data empiris, ia menggunakan kriterianya sendiri dalam proses ini yang tidak terdapat dalam fakta empiris itu sendiri.
Simmel juga menganalisa konflik dialektik antara bentuk-bentuk sosial yang sudah mapan yang tercermin dalam institusi-institusi yang ada dan pola-pola budaya serta proses hidup itu sendiri yang secara terus menerus harus menciptakan bentuk baru bagi pengungkapannya sendiri. Perhatian Simmel tidak hanya pada sosiologi, ia menulis banyak hal dan memberi kuliah dalam bidang filsafat, etika, sejarah, kritik budaya umumnya, seni dan kritik sastra khususnya.
Munculnya Masyarakat Menurut Georg Simmel
Munculnya masyarakat menurut Simmel dikenal dengan istilah vergesellschaftung yang secara harfiah berarti “proses terjadinya masyarakat”, atau disebut juga dengan istilah “Sosiasi” (sociation). Jadi munculnya masyarakat terjadi karena adanya interaksi timbal balik yang mana dalam proses tersebut individu akan saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Masyarakat lebih daripada jumlah individu yang membentuknya lalu ditambah dengan pola interaksi timbal balik dimana mereka saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Akan tetapi masyarakat tidak akan pernah ada sebagai suatu benda objektif yang terlepas dari anggota-anggotanya. Kenyataan itu terdiri dari kenyataan proses interaksi timbal balik. Pendekatan ini mengusahakan keseimbangan antara pandangan nominalis (yang percaya hanya pada individu yang riil) dan pandangan realis atau teori organik (yang mengemukakan bahwa kenyataan sosial itu bersifat independen dari individu yang membentuknya).
Contoh terbentuknya masyarakat menurut Simmel, misalnya sejumlah individu yang terpisah satu sama lain atau berdiri sendiri-sendiri saja, yang sedang menunggu dengan tenang di terminal lapangan udara tidak membentuk jenis masyarakat atau kelompok. Tetapi kalau ada pengumuman yang mengatakan bahwa kapal akan tertunda beberapa jam karena tabrakan, beberapa orang mungkin mulai berbicara dengan orang disampingnya, dan disanalah muncul masyarakat. Dalam hal ini masyarakat (sosietalisasi) yang muncul akan sangat rapuh dan sementara sifatnya, dimana ikatan-ikatan interaksi timbal baliknya itu bersifat sementara saja. Proses munculnya masyarakat sangat banyak macamnya, mulai dari pertemuan sepintas lalu antara orang-orang asing ditempat-tempat umum sampai ke ikatan persahabatan yang lama dan intim atau hubungan keluarga. Tanpa memandang tingkat variasinya, proses sosiasi ini mengubah suatu kumpulan individu saja menjadi satu masyarakat (kelompok/sosiasi). Masyarakat ada pada tingkat tertentu dimana dan apabila sejumlah individu terjalin melalui interaksi dan saling mempengaruhi.
Dyad dan Triad
Adapun yang membedakan antara hubungan dyad dan triad adalah jumlah orang yang terlibat dalam interaksi tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Simmel begitu jumlah orang yang terlibat dalam interaksi berubah, maka bentuk interaksi merekapun berubah dengan teratur dan dapat diramalkan. Simmel berpendapat bahwa unit terkecil dalam kehidupan manusia yang menjadi ruang lingkup  perhatian sosiologi adalah dyad, yang merupakan unit atau kelompok yang terdiri dari dua orang. Bentuk dyad (duaan) memperlihatkan ciri khas yang unik sifatnya yang tidak terdapat dalam satuan sosial apapun yang lebih besar. Contohnya adalah, suami dan isteri, dua orang sahabat karib dan seterusnya. kalau seseorang individu memilih untuk keluar dari suatu kelompok dyad (duaan) maka satuan sosial itu sendiri akan hilang lenyap. Sebaliknya, dalam semua kelompok lainnya, hilangnya satu orang anggota tidak ikut menghancurkan keseluruhan satuan sosial itu.  Dalam dyad tersebut kemungkinan besar yang terjadi adalah bahwa salah satu pihak tenggelam dalam kedudukan dan peranan pihak lain.
Oleh karena dyad terdiri dari dua pihak, maka tidak ada pihak lain yang mungkin menengahinya, sehingga Simmel berkesimpulan kedua pihak tersebut sebenarnya merupakan suatu kesatuan perasaan. Di dalam dyad terdapat hubungan yang sangat erat dan menyatu. Maka, ada kemungkinan terjadi konflik atau pertikaian. Kesatuan perasaan tersebut kadang terganggu oleh tindakan masing-masing pihak yang mungkin mengakibatkan terjadi konflik. Hubungan dyad tidak selalu disertai oleh perasaan-perasaan positif. Dalam situasi konflik, apapun masalah dan sebab musababnya, hubungan yang sangat intim seringkali membuat konflik malah menjadi lebih parah. Masalah konflik yang kelihatannya sepele bagi orang luar, ditanggapi dengan sangat emosional. Sesungguhnya keterbukaan mereka satu sama lain pada tingkat kepribadian yang sangat dalam membuat mereka mudah saling menyerang yang berhubungan dengan masalah kepribadian ini. Ketiadaaan pihak ketiga menimbulkan situasi dimana tidak ada pemisah ketika mereka berkonflik. Ketiadaan pihak ketiga memang meningkatkan keakraban dalam dyad. Akan tetapi, bila terjadi konflik, timbul kebutuhan akan adanya pihak ketiga. Hadirnya pihak ketiga dapat menetralisasi ketegangan yang ada. Simmel menyatakan, adanya pihak ketiga akan menyebabkan pihak yang terlibat dalam konflik mengemukakan pendapatnya secara lebih rasional, sehingga kemungkinan terjadinya perdamaian lebih besar.
Triad disini diartikan sebagai pihak ketiga. Salah satu pokok pikiran Simmel yang terkenal adalah diskusinya mengenai berbagai peran yang dapat dilakukan oleh pihak ketiga. Menurut Simmel, triad cenderung tidak stabil, karena secara koheren, terkait dengan pembentukan suatu koalisi dua pihak yang berhadapan dengan satu pihak lain. Pihak yang ditempatkan dalam kedudukan ketiga atau status yang tersingkir, senantiasa berubah. Simmel telah menyajikan pelbagai contoh mengenai efek pihak ketiga. Dia memberikan contoh, orang-orang Eropa cenderung untuk memperkerjakan hanya seorang pembantu, padahal mereka mampu untuk membayar gaji lebih banyak pembantu. Dengan adanya lebih dari seorang pembantu, timbul ciri-ciri suatu triad, sehingga hubungan antara pembantu dengan majikan lebih bersifat formal.
Apabila terjadi penambahan jumlah orang (artinya lebih dari tiga), maka hal itu mempunyai akibat tertentu terhadap hakikat interaksi dalam suatu kelompok. Simmel pernah mengemukakan suatu hipotesa yang menyatakan, bahwa semakin besar suatu kelompok semakin besar pula kecenderungan terjadinya bentuk interaksi seperti dyad. Selama terjadinya proses menuju bentuk hubungan sebagaimana halnya dengan suatu dyad dalam suatu kelompok besar, setiap pihak atau kategori cenderung menerima anggota-anggota yang memiliki ciri-ciri pokok sama, misalnya : kekayaan, pola sikap tindak, dst. Kecenderungan terjadinya konflik dalam triad merupakan masalah yang menjadi salah satu pusat perhatian studi Simmel. Hal ini antara lain disebabkan karena terdapatnya banyak kesempatan pada pihak-pihak dalam triad untuk melaksanakan pelbagai peranan.
Pemikiran sosiologi mikro Georg Simmel
Georg Simmel muncul di dunia ilmu sosiologi dengan menghadirkan pokok-pokok pemikiran yang lebih mengulas pada sosiologi mikro, meskipun demikian ia tetap berkiprah dengan terus menghasilkan pemikiran kritis tentang komponen-komponen kehidupan sosial dan hubungan antar pribadi, sedangkan untuk lingkup yang lebih luas atau makro, karyanya tentang struktur dan perubahan dalam semangat sosial pada zamannya. Pokok pemikiran mikro Georg Simmel adalah :
·         Kesadaran individu
·         Konsep sosiologi
·         Realitas social
·         Interaksi social
·         Pengaruh jumlah pada bentuk social
·         Kreatifitas individu versus bentuk budaya yang mapan
·         Uang dan nilai
Karya-karyanya yang terkenal tidak serta merta menjadi hal yang dapat diterima orang dengan mudah, karena ia terhalang suatu hal yang berawal dari latar belakangnya, kala itu keadaan antisemitisme menjadikan dirinya merasa terkucilkan. Antisemitisme adalah suatu sikap permusuhan atau prasangka terhadap kaum Yahudi dalam bentuk-bentuk penganiayaan/penyiksaan terhadap agama, etnik, maupun kelompok ras, mulai dari kebencian terhadap individu hingga lembaga. Fenomena yang paling terkenal akan anti-semitisme adalah ideologi Nazisme dari Adolf Hitler, yang menyebabkan permusuhan terhadap kaum Yahudi di Eropa.
Ø  Interaksionisme Simbolik
Adanya kesadaran individu yang dikemukakan oleh Georg Simmel menjadi sumber awal Simmel dalam mengkaji lebih jauh tentang interaksi sosial, ia telah melakukan teoretisasi masalah modernitas dengan penekanan pada perkembangan pesat dari ilmu, teknologi, pengetahuan obyektif, berikut diferensiasinya di satu sisi dan erosi budaya subyektif di sisi lain. Konflik dan krisis kebudayaan modern dilukiskan Simmel dalam bentuk pemiskinan-subyektivitas yang disebutnya endemi atrophy (terhentinya pertumbuhan budaya subyektif) karena hypertrophy (penyuburan budaya obyektif). Simmel berusaha menjelaskan adanya ketimpangan budaya individu atas manusia sebagai subjeknya dibandingkan dengan perkembangan media atau sarana kehidupan yang mengurangi peran aktif  manusia dalam berkarya. Sehubungan dengan fenomena endemi antrophy interaksi menjadi salah satu pokok pemikiran dalam teori Simmel.
Masyarakat, kemudian, dapat didefinisikan sebagai sejumlah individu yang dihubungkan dengan interaksi.. Interaksi ini dapat menjadi mengkristal sebagai bidang permanen.. Hubungan ini, atau bentuk sociation, sangat penting karena mereka menunjukkan bahwa masyarakat bukan merupakan substansi, tetapi sebuah peristiwa, dan karena bentuk-bentuk sociation mengatasi individu / dualisme sosial (individu terlibat dengan satu sama lain dan dengan demikian merupakan sosial). Sedangkan interaksi sosial menurut Georg Simmel memiliki point-point tersendiri yang menurutnya merupakan hal yang perlu untuk disertakan dalam teori-teorinya, Simmel mengungkapkan beberapa interaksi, yaitu:
1)      Menurut bentuk, meliputi :
·         Subordinasi (ketaatan)
·         Superordinasi (dominasi)
·         Hubungan seksual
·         Konflik
·         Sosiabilita (interaksi yang terjadi demi interaksi itu sendiri dan bukan untuk tujuan lain)
2)      Menurut tipe, meliputi :
·         interaksi yang terjadi antar individu-individu
·         interaksi yang terjadi antar individu-kelompok
·         interaksi yang terjadi antar kelompok-individu
Pada keadaan yang sama yaitu kehidupan dengan interaksi dan komunikasi dapat menumbuhkan kemungkinan-kemungkinan tertentu, dimana memiliki dampak positif dan negatif, ada pada suatu saat seseorang merasakan kedekatan, kekompakan, dan kebersamaan baik secara pribadi maupun  kelompok. Adanya kontak merupakan faktor yang mendorong terjadinya komunilkasi , kontak tersebut terdiri dari kontak secara langsung maupun secara tidak langsung ( melalui media ), dan komunikasi itu sendiri adalah gambaran dari adanya interaksi dalam hidupnya dengan orang lain. Simmel juga memusatkan pemikirannya mengenai relasi, khususnya interaksi antar pemeran sadar dan tujuannya adalah melihat besarnya cakupan interaksi yang mungkin sepele namun pada saat lain sangat penting. Menurut Simmel interaksi timbul karena kepentingan-kepentingan dan dorongan tertentu (Soerjono Soekanto, 405:2003). Salah satu bentuk interaksi yang dibicarakan Simmel adalah gaya (fashion). Gaya adalah bentuk relasi sosial yang menginginkan orang menyesuaikan diri dengan keinginan kelompok. Gaya bersifat dialektis yang berarti keberhasilan dan persebaran gaya akan berujung pada kegagalan. Hal positif yang muncul dari adanya interaksi bisa terjadi melalui terjalinnya solidaritas masyarakat, dan hal negatif adalah berupa adanya konflik. Minat Simmel pada bentuk interaksi menuai banyak kritikan. Ia dituduh memaksa suatu tatanan yang sebenarnya tidak ada dan menghasilkan studi yang tidak saling terkait yang akhirnya sama sekali tidak menerapkan tatanan yang lebih baik pada realitas sosial. Menurut bentuknya terdapat konsep yang disebut dengan Subordinasi (ketaatan) dan Superordinasi (dominasi).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar